Menumbuhkan Sense Of Ownership

Menjadi seorang pemimpin bisnis sering kali menghadirkan tantangan yang berat, terutama ketika kita merasa harus memikirkan dan menanggung beban perusahaan sendirian.

Banyak pengusaha Muslim yang bercerita kepada saya: “Tim saya kerjanya hitung-hitungan. Kalau tidak disuruh, tidak jalan. Kalau tidak dikejar deadline, santai-santai. Kenapa mereka tidak punya inisiatif? Kenapa mereka tidak menganggap perusahaan ini seperti milik mereka sendiri?”

Para pengusaha ini sangat mendambakan tim yang memiliki Sense of Ownership (rasa kepemilikan). Mereka ingin karyawannya ikut memikirkan solusi saat krisis, berinisiatif tanpa harus disuruh, dan bekerja dengan dedikasi penuh seolah-olah itu adalah bisnis mereka sendiri.

Namun, mari kita jujur pada diri sendiri dan melakukan muhasabah.

Kita menuntut karyawan untuk memiliki “Rasa sebagai Pemilik”, tetapi bagaimana cara kita memperlakukan mereka sehari-hari? Apakah kita sudah memperlakukan mereka selayaknya seorang pemilik? Atau jangan-jangan, kita menuntut inisiatif level pemilik, tetapi memberikan perlakuan, kesejahteraan, dan hak suara sebatas level karyawan biasa?

E-book ini ditulis untuk meluruskan cara pandang kita. Kita akan membedah bagaimana Islam mengajarkan cara yang paling efektif dan natural untuk menumbuhkan Sense of Ownership di dalam tim kita.

Salah Kaprah “Employee Engagement”

Di dunia korporat modern, perusahaan rela menghabiskan dana besar untuk mengadakan outbond, seminar motivasi, atau sekadar makan-makan di kantor demi membangun kekompakan tim. Namun, semua itu sering kali hanya menjadi salah kaprah jika fondasi utamanya—yaitu keadilan dan kesejahteraan—tidak diperbaiki.

Saya pernah menemui sebuah kasus nyata yang sangat menarik. Ada seorang pengusaha Muslim bercerita kepada saya bahwa di perusahaannya memang ada sistem Profit Sharing (bagi hasil). Namun ironisnya, dari ratusan karyawan yang bekerja keras setiap hari, sistem bagi hasil itu hanya diberikan kepada 1 orang saja.

Alasannya? Karena menganggap satu orang tersebut sangat berjasa dan memiliki peran penting saat merintis bisnis.

Kisah ini adalah cerminan dari mindset yang keliru. Beberapa pengusaha menganggap kesejahteraan ekstra atau bagi hasil sebagai sebuah “hadiah eksklusif” untuk satu-dua orang veteran saja, bukan sebagai sistem untuk menumbuhkan rasa kepemilikan secara merata kepada tim yang sedang berjuang hari ini.

Jika kita ingin ratusan atau ribuan karyawan kita memiliki Sense of Ownership, maka sistem kesejahteraan, penghargaan, dan rasa aman juga harus dirasakan oleh mereka secara adil, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang di puncak piramida.

Rumus Emas Syariat: “Perlakukan Sebagaimana Engkau Ingin Diperlakukan”

Dalam Islam, menumbuhkan loyalitas dan rasa kepemilikan tidak membutuhkan teori manajemen Barat yang rumit. Rumusnya sangat sederhana, natural, dan berlandaskan pada keimanan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan sebuah kaidah emas yang menjadi fondasi segala bentuk muamalah dan interaksi sosial:

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mari kita terjemahkan hadits ini ke dalam bahasa bisnis:

• Jika Anda (sebagai pemilik) ingin sejahtera secara finansial, maka Anda harus memikirkan kesejahteraan finansial karyawan Anda.

• Jika Anda ingin ide dan suara Anda didengarkan, maka Anda harus mau mendengarkan ide dan keluh kesah karyawan Anda.

• Jika Anda ingin memiliki kebebasan dalam memimpin, maka Anda harus memberikan ruang bagi tim Anda untuk memimpin di bidang keahlian mereka.

Lebih spesifik lagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan standar yang sangat tinggi tentang bagaimana seorang pemimpin harus memperlakukan orang-orang yang bekerja di bawah tanggungannya. Perhatikan hadits yang luar biasa ini secara utuh:

“Mereka adalah saudara kalian yang Allah jadikan di bawah tanggungan kalian… hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, dan memberinya pakaian dari apa yang ia pakai. Dan janganlah kalian membebani mereka dengan tugas yang memberatkan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keseluruhan pesan dalam hadits ini sejatinya adalah akar dan fondasi utama dari Sense of Ownership. Mulai dari menyamakan standar kesejahteraan (makan dan pakaian), larangan memberikan beban di luar batas kemampuan, hingga perintah untuk turun tangan membantu mereka.

Hakikatnya, karyawan sedang membantu memikul beban pekerjaan yang sebenarnya adalah tanggung jawab sang pengusaha. Jika kita menyadari bahwa mereka adalah saudara yang sedang membantu kita, maka sudah sepantasnya kita pun turun tangan membantu, memfasilitasi, dan menyejahterakan mereka. Inilah ukhuwah profesional yang sesungguhnya.

Karyawan InsyaAllah akan otomatis merasa memiliki perusahaan ketika mereka diperlakukan sebagai saudara dan mitra perjuangan, bukan sekadar alat yang bisa diganti kapan saja.

Matriks Perlakuan vs Ekspektasi

Banyak pengusaha frustrasi karena terjebak pada ekspektasi yang tidak sejalan dengan perlakuan mereka. Mari kita evaluasi posisi perusahaan kita melalui matriks berikut:

Aspek BisnisPerlakuan “Sense of Labor” (Karyawan Biasa)Perlakuan “Sense of Ownership” (Pemilik)
KesejahteraanGaji ditahan-tahan, ditekan seminimal mungkin (UMR pas-pasan), tidak ada transparansi bonus.Gaji yang layak, ada sistem insentif/bonus kinerja yang jelas dan adil bagi tim yang berkontribusi.
Pengambilan KeputusanOtoriter. Karyawan hanya disuruh mengeksekusi perintah tanpa boleh bertanya “Mengapa?”.Mengedepankan Syura (Musyawarah). Karyawan dilibatkan dalam mencari solusi dan idenya dihargai.
Gaya KepemimpinanMicromanagement. Pemilik tidak percaya pada tim dan selalu mencampuri urusan teknis terkecil.Tafwidh (Delegasi). Pemilik memberikan otonomi dan kepercayaan penuh kepada tim untuk memimpin proyeknya.
Saat Terjadi KesalahanKaryawan langsung dicaci maki, disalahkan, atau diancam potong gaji/PHK.Dievaluasi bersama secara objektif, dibimbing (coaching & mentoring), dan dijadikan pelajaran untuk perbaikan sistem.

Jika kita masih menerapkan perlakuan di kolom tengah, sangat tidak adil jika kita menuntut hasil di kolom kanan.

Ziyadah Ownership Framework (3 Langkah Natural)

Lalu, bagaimana cara praktis menumbuhkan rasa kepemilikan ini di perusahaan kita? Di Ziyadah Consulting, kami merumuskannya dalam 3 Pilar Kepemilikan (Ziyadah Ownership Framework):

1. Financial Ownership (Kesejahteraan yang Mengikat)

Anda tidak harus langsung membagikan saham kosong kepada semua orang. Mulailah dengan sistem kompensasi yang adil. Buatlah sistem insentif atau Profit Sharing berbasis kinerja (KPI) yang transparan untuk tim Anda. Ketika perusahaan untung besar, pastikan mereka juga merasakan cipratan keuntungannya. Kesejahteraan yang adil adalah bukti nyata bahwa Anda menganggap mereka sebagai mitra.

2. Intellectual Ownership (Budayakan Syura)

Manusia akan mati-matian membela dan mengeksekusi sebuah ide jika mereka merasa ikut melahirkan ide tersebut. Jangan selalu menjadi CEO yang “paling tahu segalanya”. Terapkan konsep Syura (musyawarah). Tanyakan pendapat mereka: “Menurut kalian, bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini?” Ketika ide mereka dipakai, rasa kepemilikan mereka terhadap proyek itu akan melonjak drastis.

3. Operational Ownership (Delegasi dan Kepercayaan)

Berhentilah melakukan micromanagement. Jika Anda sudah merekrut orang yang kompeten (Al-Qawiy), biarkan mereka memimpin di area keahliannya. Berikan mereka otonomi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sering mendelegasikan kepemimpinan pasukan kepada para sahabat yang lebih muda atau lebih ahli di medan tertentu. Kepercayaan dari seorang pemimpin adalah bahan bakar terbaik untuk menumbuhkan inisiatif.

Catatan Kritis Fiqih Muamalah:

Perlu dipahami secara proporsional bahwa menumbuhkan Sense of Ownership (rasa kepemilikan) secara psikologis dan operasional bukan berarti mengubah akad dasar ketenagakerjaan (Ijarah) menjadi kepemilikan aset secara mutlak (Syirkah), kecuali memang disepakati secara hukum (seperti pembagian saham).

Sebagai pemilik bisnis, Anda tetap memegang otoritas keputusan tertinggi dan Anda-lah yang menanggung risiko kerugian modal (finansial) jika bisnis terpuruk. Karyawan tidak menanggung kerugian modal tersebut. Oleh karena itu, memberikan kesejahteraan ekstra, insentif, dan ruang diskusi (Syura) adalah bentuk Ihsan (kebaikan/profesionalisme) untuk memuliakan mereka sebagai saudara dan mitra kerja, bukan berarti menghilangkan hierarki kepemimpinan. Pemimpin tetaplah pemimpin yang memegang kendali dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

Penutup: Kepemilikan Itu Diberikan, Bukan Dituntut

Sebagai pengusaha Muslim, kita harus menyadari satu Sunnatullah dalam kepemimpinan: Rasa kepemilikan (Sense of Ownership) tidak bisa dituntut dari bawahan, ia harus ditumbuhkan dan diberikan terlebih dahulu oleh sang pemimpin.

Jika kita ingin tim kita berjuang layaknya seorang pemilik, maka sejahterakanlah mereka sebagaimana pemilik ingin sejahtera. Dengarkanlah mereka sebagaimana pemilik ingin didengarkan. Dan percayailah mereka sebagaimana pemilik ingin dipercaya.

Jadikanlah perusahaan Anda sebagai tempat di mana ukhuwah profesional terbangun kokoh. Tempat di mana setiap tetes keringat dihargai secara adil, dan setiap ide cemerlang diberi ruang untuk tumbuh.

Ketika Anda mulai memperlakukan tim Anda sebagai saudara dan mitra perjuangan, biidznillah, Anda tidak perlu lagi mengejar-ngejar mereka untuk bekerja keras. Mereka sendiri yang akan menjaga dan membesarkan perusahaan ini, karena mereka tahu: kesuksesan perusahaan adalah kesuksesan mereka juga.

Sebarkan e-book ini jika dirasa bermanfaat.

Mari kita lebih berperan besar dan aktif untuk perekonomian Indonesia!

RUANG DISKUSI CEO:

Apakah perusahaan Anda sedang menghadapi tantangan dalam membangun tim yang solid, mandiri, dan memiliki Sense of Ownership yang tinggi?

Mari kita diskusikan solusinya. Kirimkan pesan (DM) ke LinkedIn/Instagram saya @idowiba, atau langsung balas pesan WhatsApp ini dengan kata kunci “DISKUSI TIM”.

Referensi & Daftar Pustaka

1. Al-Qur’an & Hadits:

o Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim (Tentang mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri).

o Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim (Tentang kewajiban memberi makan, pakaian, dan membantu beban tugas pekerja/bawahan).

o Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 159 (Perintah untuk bermusyawarah / Syura dalam urusan dunia/bisnis).

2. Sirah Nabawiyah:

o Praktik Syura dan Tafwidh (Delegasi) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menerima strategi sahabat (seperti ide Salman Al-Farisi di Perang Khandaq).

3. Manajemen SDM:

o Konsep Employee Engagement dan Psychological Ownership dalam literatur manajemen modern yang sejatinya telah terangkum sempurna dalam prinsip ukhuwah dan keadilan Islam.